Rabu, 03 Februari 2021

ANAMNESIS (PEMERIKSAAN SUBJEKTIF) & IDENTIFIKASI


    Anamnesis berasal dari kata anamnhsiv (bahasa Yunani) yang berarti riwayat penyakit. Anamnesis merupakan pemeriksaan awal yang dilakukan oleh dokter saat pasien datang dengan cara mewawancari pasien (auto-anamnesis) atau wali yang menyertai pasien (allo-anamnesis) guna mendapatkan informasi terkait penyakit yang diderita (gejala dan tanda penyakit) serta informasi lain yang relevan sehingga dapat membantu penegakan diagnosis dan rencan perawatan/terapi (Burns dkk, 2011; Redhono, 2012; Febriyanti dan Sugiarti, 2015). 
    
    Anamnesis dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa indikator, antara lain : 

 A. Berdasarkan Rincian Data (Febriyanti dan Sugiarti, 2015) 
     1. Anamnesis Umum 
         Berisi identitas pasien meliputi nama, usia, jenis kelamin, agama, ras, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan kontak yang dapat dihubungi. 
     2. Anamnesis Khusus 
         Berisi keluhan utama, riwayat penyakit sekarang (RPS), riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit penyerta (RPP), riwayat penyakit keluarga (RPK), dan anamnesis sistem. 

 B. Berdasarkan tekniknya 
     1. Reseptif, yaitu dengan cara melihat, mendengar, dan mengobservasi bahasa nonverbal pasien. 
     2. Manipulatif, yaitu formulasi pertanyaan dengan membatasi ruang lingkup jawaban pasien sehingga informasi yang disampaikan pasien hanya berisi informasi yang relevan untuk penegakan diagnosis penyakit. 

 C. Tujuan Anamnesis : 
     1. Menurut Birnbaum dan Dunne (2009), anamnesis bertujuan untuk : 
         a. Membangun hubungan pasien dan dokter/dokter gigi melalui sikap yang ramah (senyum, sapa, salam). 
         b. Mengumpulkan informasi yang relevan (melalui Role of Vowel : audition, inquiry, understanding, evaluation, observation). 
         c. Menegakkan diagnosis sementara (jika anamnesis belum cukup untuk penegakkan diagnosis, perlu dilakukan pemeriksaan fisik). 
         d. Mengerti keinginan dan harapan pasien (melalui komunikasi empati). 
         e. Memotivasi pasien untuk sembuh. 
         f. Membangun pendekatan emosional antara dokter/dokter gigi dengan pasien. 

     2. Menurut Setyawan (2017), anamnesis memiliki tujuan sebagai : 
         a. Problem center interview yang terfokus pada pertanyaan seputar the fundamental four 
         b. Health promotion interview untuk mendeteksi penyakit sebelum muncul gejala dan tanda. 

     3. Menurut Syafiuddin dan Syarani (2011), tujuan anamnesis adalah sebagai berikut : 
         a. Membangun hubungan pasien dan dokter/dokter gigi dengan baik 
         b. Menegakkan diagnosis 
         c. Merencanakan perawatan. 

     4. Menurut Redhono (2012) tahapan komunikasi pasien-dokter/dokter gigi memiliki empat tahapan, yaitu : 
         a. Memulai wawancara (initiating the session) 
         b. Mengumpulkan informasi (gathering information) 
         c. Penjelasan dan perencanaan (explanation and planning) 
         d. Menutup wawancara (closing the session) 
     Anamnesis merupakan bagian dari gathering information yang bertujuan untuk : 
         a. Mendapatkan riwayat medis pasien(biophysical history) secara lengkap dan akurat. 
         b. Diagnostic reasoning yang didapat melalui wawancara yang efektif dan efisien. 
         c. Awareness of Patients atau terciptanya kesadaran dan pemahaman pasien terhadap kondisi kesehatannya melalui keterlibatan pasien dalam proses interaktif dengan dokter/dokter gigi. 

 D. Komponen Anamnesis : 
     Menurut Yubliana (2010) terdapat beberapa komponen yang menunjang penyelenggaraan anamnesis untuk lebih lanjut dapat menjadi dasar penegakkan diagnosis sementara, yaitu 
     1. Chief of Complaint (CC) : Keluhan utama/alasan utama pasien datang berobat, ditulis dalam bahasa pasien. 
     2. Present Illness (PI) : Perjalanan penyakit, ditanyakan the sacred seven untuk memperjelas keluhan yang meliputi lokasi kesakitan, onset dan kronologi penyakit, kualitas penyakit (parah/ringan), kuantitas penyakit (sering/jarang), faktor yang memperberat penyakit, faktor yang memperingan penyakit, analisis sistem (analisis sistem organ lain yang memiliki kemungkinan sebagai faktor penyerta penyakit utama). PI ditulis dalam bahasa dokter. 
     3. Past Medical History (PMH) : Riwayat perawatan/pemeriksaan kondisi sistemik secara umum termasuk riwayat alergi. 
     4. Past Dental History (PDH) : Riwayat perawatan/pemeriksaan gigi. 
     5. Family History (FH) : Riwayat penyakit keluarga terkait penyakit kronis atau penyakit herediter.         6. Sosial History (SH) : Kehidupan sosial/status sosial pasien meliputi pekerjaan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, dan kebiasaan/habit. 

     Berdasarkan PMH dan PDH, suatu perubahan rencana perawatan dari perawatan awal dapat dilakukan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien. Selain komponen di atas, terdapat komponen The Fundamental Four yang dapat menunjang anamnesis. The Fundamental Four terdiri dari : 
     1. Riwayat Penyakit Sekarang 
     2. Riwayat Penyakit Dahulu 
     3. Riwayat Penyakit Keluarga 
     4. Riwayat Sosial-Ekonomi 
    
     Menurut Birnbaum dan Dunne (2009), ketika menyelenggarakan anamnesis/pemeriksaan subyektif, seorang dokter harus berempati kepada pasien dalam arti mengerti keluhan dan kebutuhan pasien (kognitif), mengerti perasaan pasien (afektif), dan menyampaikan empatinya kepada pasien sebagai bentuk feedback dari keluhan pasien (psikomotor/behavioral ability). Dalam hal ini, tingkatan empati dapat dikategorikan menjadi enam level (Bylund dan Makoul, 2002) : 
    Level 0 : dokter/dokter gigi menolak pendapat pasien. 
    Level 1 : dokter/dokter gigi mengenali sudut pandang pasien sambil lalu/disertai melakukan aktivitas lain. 
    Level 2 : dokter/dokter gigi mengenali sudut pandang pasien secara implisit/mengalihkan topik pembicaraan. 
    Level 3 : dokter/dokter gigi menghargai pendapat pasien. 
    Level 4 : dokter/dokter gigi mengonfirmasi pendapat pasien. 
    Level 5 : dokter/dokter gigi berbagi pengalaman kepada pasien. 

 E. Tahapan Anamnesis : 
     Agar anamnesis dapat menjadi dasar penegak diagnosis yang baik, diperlukan tahapan yang runtut dalam pelaksanaan anamnesis, yaitu sebagai berikut : 
     1. Persiapan : Meliputi penampilan dokter/dokter gigi, waktu yang cukup, fokus/tidak sambil melakukan kegiatan di luar anamnesis, dan tempat yang layak (dapat menjaga privasi pasien). 
     2. Pembukaan : Sikap menerima, memberi salam, mempersilakan duduk, membuat suasana nyaman dan rileks namun tetap serius, menjelaskan tujuan anamnesis, mengumpulkan informasi dari pasien. 
     3. Tanya Jawab : Melakukan eye contact, menghindari istilah medis, menghindari pertanyaan yang menjurus (pertanyaan yang diberikan setidaknya memiliki opsi pilihan lain sebagai pembanding misalnya dalam menggambarkan rasa nyeri), awali pemberian pertanyaan dengan open-ended question (pertanyaan yang dapat dijawab secara luas oleh pasien) dan akhiri pemberian pertanyaan dengan closed-ended question (pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan ya/tidak), sampaikan pertanyaan dengan sopan, dan pahami bahasa nonverbal pasien. 
     4. Rangkuman : Mengulang kalimat hasil anamnesis untuk cross-checking dengan pasien, menjelaskan mengenai diagnosis penyakit dan rencana perawatannya, serta memberi nasehat/dukungan pada pasien. 
     5. Penutup : Menanyakan kembali apakah ada hal yang belum disampaikan pasien terkait dengan keluhan dan menutup wawancara dengan sopan. 


 CONTOH : 

 Skenario : 

     Seorang ibu datang ke RSGM X untuk memeriksakan gigi belakang kanan bawah anak perempuannya yang berusia 6 tahun. Berdasarkan informasi orang tua pasien tersebut, gigi pasien sering sakit sejak seminggu yang lalu. Sang anak menjadi susah makan karena gigi yang bermasalah tersebut. Ini pertama kalinya sang anak datang ke dokter gigi sehingga anak kurang kooperatif. Sebulan yang lalu pasien dirawat di RS karena penyakit DBD. Pasien alergi ibuprofen. Pemeriksaan intraoral menunjukkan terdapat karies pada permukaan oklusal gigi 84 pasien menyisakan selapis tipis dentin, perkusi (+), palpasi (+/terdapat gumboil), anak menangis saat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan Chlor Ethyl. Orang tua pasien ingin kasus anaknya ditangani dengan baik. 

 Pembahasan : 

 1. CC : Seorang ibu datang ke RSGM X untuk memeriksakan gigi belakang kanan bawah anak perempuannya yang berusia 6 tahun. 
 2. PI : Berdasarkan informasi orang tua pasien tersebut, gigi pasien sering sakit sejak seminggu yang lalu. Sang anak menjadi susah makan karena gigi yang bermasalah tersebut. 
 3. PMH : Sebulan yang lalu pasien dirawat di RS karena penyakit DBD. Pasien alergi ibuprofen. 
 4. PDH : Ini pertama kalinya sang anak datang ke dokter gigi. 
 5. FH : Tidak ada keterangan. 
 6. SH : Tidak ada keterangan. 


 DAFTAR PUSTAKA 

Birnbaum, W., Dunne SM. 2009. Diagnosis Kelainan dalam Mulut: Petunjuk bagi Klinisi. Jakarta : EGC. 
Burns EA., Korn K., Whyte J., Thomas J., Monaghan T. 2011. Oxford American Handbook of Clinical Examination and Practical Skills. New York : Oxford University Press. 
Bylund CL., Makoul G., 2002, Patient Education & Counseling, hal. 207-216. 
Febriyanti, IM., Sugiarti, I., 2015, Analisis kelengkapan pengisian data formulir anamnesis dan pemeriksaan fisik kasus bedah, Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, Vol.3 (1) : 31-37. 
Redhono D., Wachid P., Veronika IB. 2012. Manual Book of History Taking. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Publishing. 
Setyawan, Febri EB., 2017, Komunikasi medis : hubungan dokter-pasien, Jurnal Kesehatan, Vol.1 (4) : 7. 
Syafiuddin T., Syarani F. 2011. Diagnostik Kelainan Paru. Medan : FK USU. Yubiliana, G. 2010. Penatalaksanaan Komunikasi Efektif dan Terapeutik Pasien dan Dokter Gigi. Bandung: FKG UNPAD.

Minggu, 13 Oktober 2019

Rangkuman Mandiri Praktikum Histologi


Kali ini saya akan membagikan beberapa rangkuman praktikum histologi. Semua keterangan di dalam rangkuman tersebut saya buat bersumber dari penjelasan dosen dan textbook histologi diFiore. Namun, meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika keterangan di dalamnya terdapat beberapa kesalahan karena human error dari saya sendiri. Oleh karena itu, bagi pembaca yang menemukan kesalahan pada rangkuman tersebut diharapkan dapat berkomentar di bawah atau menghubungi saya via email.
Semoga bermanfaat 😃

Semester 1
Praktikum 1 Textus epithelias download
Praktikum 2 Textus connectivus download
Praktikum 3 Textus muscularis download
Praktikum 4 Textus osseus download
Praktikum 5 Textus cartilagineus download
Praktikum 6 Textus nervosus download
Praktikum 7 Textus endocrinocytus download
Praktikum 8 Textus sirculatoria download

Semester 2
Praktikum 1 Apparatus digestoria downlaod
Praktikum 2 Pertumbuhan gigi download



Senin, 09 Juli 2018

Pengalaman Ikut MEDSPIN 2016



Hi, saya ingin berbagi pengalaman ketika saya di madrasah dulu.

    MEDSPIN adalah lomba kedokteran berstandar Internasional tingkat SMA/sederajat yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga . Lomba tersebut menguji kemampuan peserta dalam mapel MaFiKiB+pengetahuan kedokteran dasar. Lomba ini adalah lomba tim yang setiap tim terdiri dari tiga siswa. Karena saya sangat berminat dengan jurusan Kedokteran umum, saya sangat ingin mengikuti lomba MEDSPIN ini. Tahun 2016, saat itu saya  adalah siswa kelas akhir semester satu yang seharusnya tidak lagi diperbolehkan mengikuti lomba (dianjurkan fokus pada ujian nasional). Akan tetapi, mengetahui minat saya di bidang kedokteran, guru pembimbing saya mengizinkan kami (saya dan dua teman) untuk mengikuti lomba ini.

    Akhirnya, setelah mempertimbangkan beberapa hal, kami memilih regional Surakarta sebagai daerah seleksi. Ada puluhan kota yang menjadi regional seleksi dan karena kami berada di Jawa Tengah, kami memilih Surakarta sebagai alternatif pilihan dibandingkan Semarang. Tim kami terdiri dari anak olimpiade yang berbeda bidang, saya sendiri bidang Biologi, dua teman saya yang lain adalah anak olimpiade bidang Fisika dan Kimia. Kami memilih regional Surakarta karena sebagai anak olimpiade, kami mengetahui di regional Semarang ada dua sekolah pesaing berat kami yang kemungkinan besar mengambil regional Semarang. Akan tetapi, ternyata sesampainya di lokasi ujian kami melihat satu sekolah pesaing berat kami dari Semarang yang justru memilih regional Surakarta. Tak tanggung-tanggung, sekolah yang kami maksud mengirimkan sekitar tujuh tim.

    Dengan persiapan seadanya dan tekad yang kuat untuk berhasil lolos tahap seleksi regional, kami pun berusaha mengerjakan soal-soal sebaik mungkin. Kami sudah menyusun strategi untuk membagi soal sesuai bidang kami. Saya mendapat jatah bidang Biologi dan Kedokteran dasar. Sebelumnya, panitia lomba sudah meng-upload silabus soal yang akan dikeluarkan. Kami sudah mempelajari beberapa materi dari silabus dan menurut saya yang benar-benar baru adalah materi kedokteran dasar. Sebisa mungkin saya mempelajari materi tersebut dan mencoba latihan soal dari soal medspin sebelumnya. Ternyata, di soal medspin 2016 tidak ada soal analisa penyakit seperti soal tahun sebelumnya. Ini membuat saya cukup kewalahan dan tidak maksimal dalam mengerjakan soal.

    Selesai mengerjakan soal, tak butuh waktu lama, sekitar satu jam (atau lebih) pengumuman dikeluarkan oleh panitia di tempat. Peringkat tim kami berada di urutan ke-9 dari puluhan tim lainnya. Itu cukup membuat kami sedih karena hanya dua tim yang berhak mewakili tiap regional. Akan tetapi, kami juga senang bisa memiliki kesempatan mengikuti medspin 2016. Setidaknya kami sudah berusaha di tengah-tengah kesibukan kami untuk mempersiapkan ujian semester. Pulang dengan tangan hampa tak membuat guru kami bersedih, mereka justru mendukung semangat kami yang antusias untuk mengikuti lomba.

    Selang beberapa hari, guru pembimbing kami ditelepon oleh pihak panitia. Hal sangat mengejutkan, panitia memberitahu bahwa regional kami termasuk dalam regional dengan nilai capai tertinggi nasional. Itu membuka peluang kami untuk maju di tahap selanjutnya, panitia akan menghubungi lebih lanjut jika pengumuman resmi penambahan tim telah dikeluarkan. Tentu saja kami senang, harapan kami tumbuh dan semangat kami mulai menyala. Dua hari setelah telepon pertama, panitia kembali menghubungi guru kami dan menyatakan bahwa tim delapan besar regional Surakarta berhak melaju ke tahap nasional. Pengumuman yang sangat tidak kami harapkan mengingat tim kami ada di peringkat sembilan. Cukup sedih, tapi kami cukup tergelitik ketika mengingat delapan besar dan kami peringkat sembilan. Terlebih juga selisih poin tim kami dengan tim peringkat delapan hanyalah SATU POIN saja. SATU POIN, pemirsa. Itu adalah apa yang kami sebut "nyeseknya tu di sini". T_T

(^ -- ^)//
Well, itulah pengalaman saya mengikuti medspin 2016. Semoga dapat memberi sedikit manfaat untuk para pembaca dan terima kasih sudah berkunjung.





Minggu, 13 Mei 2018

Pengalaman Menjadi Siswa Ronin Nurul Fikri


Apa itu Ronin?
    Ronin adalah kelas alumni di lembaga bimbel Nurul Fikri. Di Nurul Fikri tersedia kelas khusus untuk siswa alumni yang ingin mengejar materi selama satu tahun (bisa kurang dari itu). Ada dua jenis kelas Ronin, yaitu Ronin IPA dan Ronin IPS.

Nah, saya akan membahas khusus Ronin IPA. Untuk ceritanya, langsung saja simak uraian di bawah ini.

    Awal masuk di kelas Ronin IPA hanya ada lima orang siswa saja, tapi seiring berjalannya waktu teman-teman baru berdatangan. Sebagian besar dari kami memiliki kasus yang tidak jauh berbeda, yaitu kurang siap secara materi dan latihan soal untuk menghadapi SBMPTN. Perlahan tapi pasti, tentor di NF (Nurul Fikri) mulai mengajari kami materi secara mendetail dan cara-cara praktis memecahkan soal SBMPTN yang awalnya terlihat sulit bagi saya secara pribadi. Banyak materi yang baru saya benar-benar kuasai setelah belajar di NF, para tentor juga memiliki pengetahuan ter-update mengenai materi pembelajaran yang tidak saya dapatkan di sekolah dulu, dan juga ada beberapa miskonsepsi materi saat sekolah dulu yang akhirnya dikoreksi di NF. Setiap harinya, setelah penyampaian materi kami disuguhkan Tes Harian. TH adalah latihan soal-soal masuk PTN baik itu tipe soal ujian mandiri maupun SBMPTN, terkadang juga ada soal buatan pihak NF yang terkesan "baru" dan sangat informatif. Selain TH, ada pula buku modul dari NF yang berisi ringkasan materi dan juga soal-soal latihan. Kita tidak perlu khawatir kekurangan latihan soal karena masih ada buku Problem Set (PS) yang berisi full soal-soal dari berbagai tipe soal masuk PTN. Baik modul maupun PS hanya berisi soal saja, PS memuat kunci jawaban tetapi keduanya tidak memuat pembahasan soal. Mengapa demikian? Pembahasan soal hanya bisa kita dapatkan ketika kita mau berkonsultasi dengan tentor. Hikmah yang saya dapatkan adalah kita harus berusaha lebih dan semua ilmu yang berharga pasti tidak didapat secara instan. NF mengajarkan kita untuk mandiri dan peka terhadap apa yang kita butuhkan. Untuk konsultasi dengan tentor kita perlu mengatur jadwal konsul dan "memesan"-nya lewat staff NF. Konsultasi ini gratis dan menurut saya benar-benar bermanfaat karena kita bisa belajar lebih intens dengan tentor. Kita bebas bertanya apa pun, apakah itu soal PS, modul, soal dari buku lain, materi di kelas yang belum paham, atau soal-soal lainnya. Saya pribadi sangat merasa terbantu dengan adanya konsul terjadwal ini. Berkat konsul ini pula nilai saya bisa naik saat tryout dan saya lebih mudah mengerjakan soal karena sering berlatih dan mengetahui konsep dasarnya.

    Hal lain yang berkesan bagi saya saat belajar di NF adalah sistem penilaian tryout yang menggunakan sistem nilai nasional. Apa itu nilai nasional? Nilai nasional (NN)  adalah konversi nilai dari banyaknya soal yang kita jawab saat tryout dikali dengan bobot soal tiap masing-masing soal (Tpa, matdas, bahasa, tkd saintek/soshum). Sistem ini sudah lama dipakai NF dan sistem ini pula yang sesungguhnya digunakan di SBMPTN (bahkan sejak zaman UMPTN, SPMB, atau sebelum SBMTPN), BUKAN Passing Grade. Dari mana saya tahu hal demikian? Silakan googling mengenai penilaian yang digunakan SBMPTN dan tesis Dr. S Toemin (termasuk panitia UMPTN kala itu). Karena terbiasa menggunakan sistem nilai nasional, saya cukup tidak terkejut saat sistem penilaian SBMPTN 2018 menggunakan sistem baru yang menilai dari segi bobot soal dan bukan lagi sistem minus. Terlebih, nilai nasional tiap siswa NF selalu di-ranking secara nasional (se-NF di seluruh Indonesia) sehingga kita tahu seberapa besar peluang kita untuk masuk di jurusan impian kita dengan mengetahui nilai nasional kita dan jumlah peminatnya (skala siswa NF se-Indondesia). Bagaimana caranya mengetahui NN kita? Setiap siswa NF akan memiliki akun SIA yang akan mencatat setiap nilai tryout kita, menyajikannya dengan grafik, dan menampilkan lulus tidaknya kita pada pilihan jurusan kita saat tryout. Selain itu, akun SIA juga berguna saat kita akan melakukan tryout online di NF saat program intensif.

    Terlepas dari sistem penilaiannya, NF juga beberapa kali memunculkan variasi soal yang "baru" namun tetap standar SBMPTN di tryout. Latihan soal di PS juga sangat variatif, bahkan saya dapat mengerjakan soal yang benar-benar konsepnya mirip seperti salah satu soal di PS saat SBMPTN tahun ini, dan saya rasa materi itu tidak pernah ada di SMA atau pernah keluar di tryout dari luar NF.

    Hal lain yang juga mengesankan saya saat belajar di NF adalah adanya kelas BIP (Bimbingan Info Pendidikan). Ini bukanlah BK di NF tapi lebih ke arah pemberian informasi seputar SBMPTN dan ujian masuk PTN lainnya. Materi BIP juga tidak semata-mata tentang info ujian, di dalam BIP ada pula materi-materi relijius yang bisa menambah semangat kita untuk belajar dan penyaranan jurusan berdasarkan MBPJ (Matriks Bantu Pemilihan Jurusan). Hanya di NF yang menyediakan kelas BIP ini.

    Menjelang SBMPTN tiba, ada program Super Intensif (SI) yang akan mencampurkan siswa Ronin dengan siswa kelas PPLS (Siswa SMA). Pencampuran ini berguna untuk mengukur kemampuan kita (Ronin) dalam skala yang lebih besar. Jadwal SI sangatlah padat dan variasi soalnya semakin banyak. Kita juga akan mendapat buku PS baru saat menjalani SI. Bedanya, PS dan Tryout SI akan memiliki pembahasan tertulis di akun SIA masing-masing yang bisa kita unduh.

    Kiranya begitulah poin penting pengalaman saya selama belajar di kelas Ronin NF. Ingatlah bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil dan hasil terbaik akan didapat ketika kita sudah berusaha maksimal, kita bertawakkal, dan kita bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah. Apa pun itu, syukuri dan teruslah benahi diri.

*Uraian di atas adalah review dan testimoni semata, tidak ada paksaan atau permintaan dari pihak mana pun untuk mengulas topik ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan semoga bisa bermanfaat bagi teman pembaca semua.