Anamnesis berasal dari kata anamnhsiv (bahasa Yunani) yang berarti riwayat penyakit. Anamnesis merupakan pemeriksaan awal yang dilakukan oleh dokter saat pasien datang dengan cara mewawancari pasien (auto-anamnesis) atau wali yang menyertai pasien (allo-anamnesis) guna mendapatkan informasi terkait penyakit yang diderita (gejala dan tanda penyakit) serta informasi lain yang relevan sehingga dapat membantu penegakan diagnosis dan rencan perawatan/terapi (Burns dkk, 2011; Redhono, 2012; Febriyanti dan Sugiarti, 2015).
Anamnesis dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa indikator, antara lain :
A. Berdasarkan Rincian Data (Febriyanti dan Sugiarti, 2015)
1. Anamnesis Umum
Berisi identitas pasien meliputi nama, usia, jenis kelamin, agama, ras, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan kontak yang dapat dihubungi.
2. Anamnesis Khusus
Berisi keluhan utama, riwayat penyakit sekarang (RPS), riwayat penyakit dahulu (RPD), riwayat penyakit penyerta (RPP), riwayat penyakit keluarga (RPK), dan anamnesis sistem.
B. Berdasarkan tekniknya
1. Reseptif, yaitu dengan cara melihat, mendengar, dan mengobservasi bahasa nonverbal pasien.
2. Manipulatif, yaitu formulasi pertanyaan dengan membatasi ruang lingkup jawaban pasien sehingga informasi yang disampaikan pasien hanya berisi informasi yang relevan untuk penegakan diagnosis penyakit.
C. Tujuan Anamnesis :
1. Menurut Birnbaum dan Dunne (2009), anamnesis bertujuan untuk :
a. Membangun hubungan pasien dan dokter/dokter gigi melalui sikap yang ramah (senyum, sapa, salam).
b. Mengumpulkan informasi yang relevan (melalui Role of Vowel : audition, inquiry, understanding, evaluation, observation).
c. Menegakkan diagnosis sementara (jika anamnesis belum cukup untuk penegakkan diagnosis, perlu dilakukan pemeriksaan fisik).
d. Mengerti keinginan dan harapan pasien (melalui komunikasi empati).
e. Memotivasi pasien untuk sembuh.
f. Membangun pendekatan emosional antara dokter/dokter gigi dengan pasien.
2. Menurut Setyawan (2017), anamnesis memiliki tujuan sebagai :
a. Problem center interview yang terfokus pada pertanyaan seputar the fundamental four
b. Health promotion interview untuk mendeteksi penyakit sebelum muncul gejala dan tanda.
3. Menurut Syafiuddin dan Syarani (2011), tujuan anamnesis adalah sebagai berikut :
a. Membangun hubungan pasien dan dokter/dokter gigi dengan baik
b. Menegakkan diagnosis
c. Merencanakan perawatan.
4. Menurut Redhono (2012) tahapan komunikasi pasien-dokter/dokter gigi memiliki empat tahapan, yaitu :
a. Memulai wawancara (initiating the session)
b. Mengumpulkan informasi (gathering information)
c. Penjelasan dan perencanaan (explanation and planning)
d. Menutup wawancara (closing the session)
Anamnesis merupakan bagian dari gathering information yang bertujuan untuk :
a. Mendapatkan riwayat medis pasien(biophysical history) secara lengkap dan akurat.
b. Diagnostic reasoning yang didapat melalui wawancara yang efektif dan efisien.
c. Awareness of Patients atau terciptanya kesadaran dan pemahaman pasien terhadap kondisi kesehatannya melalui keterlibatan pasien dalam proses interaktif dengan dokter/dokter gigi.
D. Komponen Anamnesis :
Menurut Yubliana (2010) terdapat beberapa komponen yang menunjang penyelenggaraan anamnesis untuk lebih lanjut dapat menjadi dasar penegakkan diagnosis sementara, yaitu
1. Chief of Complaint (CC) : Keluhan utama/alasan utama pasien datang berobat, ditulis dalam bahasa pasien.
2. Present Illness (PI) : Perjalanan penyakit, ditanyakan the sacred seven untuk memperjelas keluhan yang meliputi lokasi kesakitan, onset dan kronologi penyakit, kualitas penyakit (parah/ringan), kuantitas penyakit (sering/jarang), faktor yang memperberat penyakit, faktor yang memperingan penyakit, analisis sistem (analisis sistem organ lain yang memiliki kemungkinan sebagai faktor penyerta penyakit utama). PI ditulis dalam bahasa dokter.
3. Past Medical History (PMH) : Riwayat perawatan/pemeriksaan kondisi sistemik secara umum termasuk riwayat alergi.
4. Past Dental History (PDH) : Riwayat perawatan/pemeriksaan gigi.
5. Family History (FH) : Riwayat penyakit keluarga terkait penyakit kronis atau penyakit herediter.
6. Sosial History (SH) : Kehidupan sosial/status sosial pasien meliputi pekerjaan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, dan kebiasaan/habit.
Berdasarkan PMH dan PDH, suatu perubahan rencana perawatan dari perawatan awal dapat dilakukan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien. Selain komponen di atas, terdapat komponen The Fundamental Four yang dapat menunjang anamnesis. The Fundamental Four terdiri dari :
1. Riwayat Penyakit Sekarang
2. Riwayat Penyakit Dahulu
3. Riwayat Penyakit Keluarga
4. Riwayat Sosial-Ekonomi
Menurut Birnbaum dan Dunne (2009), ketika menyelenggarakan anamnesis/pemeriksaan subyektif, seorang dokter harus berempati kepada pasien dalam arti mengerti keluhan dan kebutuhan pasien (kognitif), mengerti perasaan pasien (afektif), dan menyampaikan empatinya kepada pasien sebagai bentuk feedback dari keluhan pasien (psikomotor/behavioral ability). Dalam hal ini, tingkatan empati dapat dikategorikan menjadi enam level (Bylund dan Makoul, 2002) :
Level 0 : dokter/dokter gigi menolak pendapat pasien.
Level 1 : dokter/dokter gigi mengenali sudut pandang pasien sambil lalu/disertai melakukan aktivitas lain.
Level 2 : dokter/dokter gigi mengenali sudut pandang pasien secara implisit/mengalihkan topik pembicaraan.
Level 3 : dokter/dokter gigi menghargai pendapat pasien.
Level 4 : dokter/dokter gigi mengonfirmasi pendapat pasien.
Level 5 : dokter/dokter gigi berbagi pengalaman kepada pasien.
E. Tahapan Anamnesis :
Agar anamnesis dapat menjadi dasar penegak diagnosis yang baik, diperlukan tahapan yang runtut dalam pelaksanaan anamnesis, yaitu sebagai berikut :
1. Persiapan : Meliputi penampilan dokter/dokter gigi, waktu yang cukup, fokus/tidak sambil melakukan kegiatan di luar anamnesis, dan tempat yang layak (dapat menjaga privasi pasien).
2. Pembukaan : Sikap menerima, memberi salam, mempersilakan duduk, membuat suasana nyaman dan rileks namun tetap serius, menjelaskan tujuan anamnesis, mengumpulkan informasi dari pasien.
3. Tanya Jawab : Melakukan eye contact, menghindari istilah medis, menghindari pertanyaan yang menjurus (pertanyaan yang diberikan setidaknya memiliki opsi pilihan lain sebagai pembanding misalnya dalam menggambarkan rasa nyeri), awali pemberian pertanyaan dengan open-ended question (pertanyaan yang dapat dijawab secara luas oleh pasien) dan akhiri pemberian pertanyaan dengan closed-ended question (pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan ya/tidak), sampaikan pertanyaan dengan sopan, dan pahami bahasa nonverbal pasien.
4. Rangkuman : Mengulang kalimat hasil anamnesis untuk cross-checking dengan pasien, menjelaskan mengenai diagnosis penyakit dan rencana perawatannya, serta memberi nasehat/dukungan pada pasien.
5. Penutup : Menanyakan kembali apakah ada hal yang belum disampaikan pasien terkait dengan keluhan dan menutup wawancara dengan sopan.
CONTOH :
Skenario :
Seorang ibu datang ke RSGM X untuk memeriksakan gigi belakang kanan bawah anak perempuannya yang berusia 6 tahun. Berdasarkan informasi orang tua pasien tersebut, gigi pasien sering sakit sejak seminggu yang lalu. Sang anak menjadi susah makan karena gigi yang bermasalah tersebut. Ini pertama kalinya sang anak datang ke dokter gigi sehingga anak kurang kooperatif. Sebulan yang lalu pasien dirawat di RS karena penyakit DBD. Pasien alergi ibuprofen. Pemeriksaan intraoral menunjukkan terdapat karies pada permukaan oklusal gigi 84 pasien menyisakan selapis tipis dentin, perkusi (+), palpasi (+/terdapat gumboil), anak menangis saat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan Chlor Ethyl. Orang tua pasien ingin kasus anaknya ditangani dengan baik.
Pembahasan :
1. CC : Seorang ibu datang ke RSGM X untuk memeriksakan gigi belakang kanan bawah anak perempuannya yang berusia 6 tahun.
2. PI : Berdasarkan informasi orang tua pasien tersebut, gigi pasien sering sakit sejak seminggu yang lalu. Sang anak menjadi susah makan karena gigi yang bermasalah tersebut.
3. PMH : Sebulan yang lalu pasien dirawat di RS karena penyakit DBD. Pasien alergi ibuprofen.
4. PDH : Ini pertama kalinya sang anak datang ke dokter gigi.
5. FH : Tidak ada keterangan.
6. SH : Tidak ada keterangan.
DAFTAR PUSTAKA
Birnbaum, W., Dunne SM. 2009. Diagnosis Kelainan dalam Mulut: Petunjuk bagi Klinisi. Jakarta : EGC.
Burns EA., Korn K., Whyte J., Thomas J., Monaghan T. 2011. Oxford American Handbook of Clinical Examination and Practical Skills. New York : Oxford University Press.
Bylund CL., Makoul G., 2002, Patient Education & Counseling, hal. 207-216.
Febriyanti, IM., Sugiarti, I., 2015, Analisis kelengkapan pengisian data formulir anamnesis dan pemeriksaan fisik kasus bedah, Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, Vol.3 (1) : 31-37.
Redhono D., Wachid P., Veronika IB. 2012. Manual Book of History Taking. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Publishing.
Setyawan, Febri EB., 2017, Komunikasi medis : hubungan dokter-pasien, Jurnal Kesehatan, Vol.1 (4) : 7.
Syafiuddin T., Syarani F. 2011. Diagnostik Kelainan Paru. Medan : FK USU.
Yubiliana, G. 2010. Penatalaksanaan Komunikasi Efektif dan Terapeutik Pasien dan Dokter Gigi. Bandung: FKG UNPAD.